Usia Boleh Tua, Tapi Semangat Tetap Anak Muda
Unesa Journalism, Sidoarjo – Setiap orang pasti mengingkan kehidupan yang makmur dan sejahtera di masa tuanya nanti. Menghabiskan waktu di rumah saja, bermain bersama cucu, menonton tv ataupun bersantai dengan menikmati secangkir teh hangat. Apalagi kalau bisa mengeksplore hobinya di masa muda dulu seperti berkebun, menjahit, membaca buku dan sebagainya, tentu akan lebih asyik dan “masa tua goals banget kan”.
Namun terkadang ekspektasi memang tidak
sesuai dengan realita yang terjadi. Banyak orang yang harus tetap bekerja keras
untuk bertahan hidup di masa tuanya. Ada juga yang bekerja untuk mengisi waktu
luangnya agar tidak hanya menggangur di rumah. Hal tersebut sama seperti yang
dilakukan oleh Suyati, seorang nenek berusia 64 tahun yang merupakan seorang
pedagang warung nasi di daerah Sidokare, Sidoarjo.
Suyati, 64 Tahun. Pedangang Warung Nasi
|
(Local Heroes : Tetap Produktif di Masa Tua) |
Suyati merupakan wanita
paruh baya warga asli Sidoarjo. Ia memiliki 4 orang anak, 3 diantaranya sudah
menikah dan anak bungsunya masih menempuh pendidikan. Suyati mengatakan bahwa
dia hanya bisa bekerja sebagai pedagang nasi karena ia hanya lulusan SD. “Ya
karena saya cuma lulusan SD, dulu mau kerja apa apa juga susah jadi paling
benar ya buka warung dan berdagang” Ungkap nya.
Suyati, atau yang lebih
akrab dipanggil Mak Ti ini sudah mulai berdagang dan membuka warung nya sejak
tahun 2000. “Dulu saya cuma buka warung yang jual kopi dan berbagai minuman
saja, makanan yang ada juga cuma mie instan.” Ujar Mak Ti saat diwawancarai di
warung nasi nya. Setiap harinya, Mak Ti berdagang dibantu oleh suami nya, yaitu
Supadi. Mak Ti mengungkapkan bahwa seiring berjalannya waktu, ia harus mulai
berinovasi agar warungnya tidak hanya menjual makanan dan minuman instan. Dan
pada akhirnya, tahun 2005 Mak Ti memutuskan untuk merubah warungnya menjadi
warung nasi atau yang biasa disebut dengan Warteg.
Setiap harinya Mak Ti
harus berbelanja bahan ke Pasar Larangan, Sidoarjo. Selama puluhan tahun ia
melakoni hal ini sendirian, berbelanja ke Pasar dari subuh tepatnya yaitu pukul
05.00 sampai pukul 07.00. “Dari dulu sampai sekarang kalau belanja pasar memang
sendirian, meskipun sekarang jalan saya juga sudah sedikit susah tapi saya
harus tetap semangat.” Ujar Mak Ti.
Namun untuk memasaknya,
Mak Ti dibantu oleh 2 pegawainya. Kegiatan masak - memasak ini dilakukan di
rumah Mak Ti, dan nantinya akan dibawa ke warung jika sudah matang. Mak Ti mengatakan bahwa sebenarnya tenaganya juga
sudah tidak kuat untuk memasak, belum lagi jika masak sendirian tentu
membutuhkan waktu yang lama. “Pokoknya sebelum dhuhur itu semua masakan sudah
harus matang dan siap untuk dibawa ke warung. Kalau jam segitu belum matang,
wah pasti semua ikut kacau” Tambah Mak Ti.
Warung nasi Mak Ti diberi
nama “Warung Makku” berlokasi di Jl. H. Sunandar Priyo Sudarmo, Ds. Sidokare,
Kab. Sidoarjo. Buka pukul 12.00 hingga pukul 17.00. Menjual berbagai menu
makanan yang enak nan lezat diantaranya menu paling best seller yaitu
gulai kepala ikan, kotokan ikan mujaer bakar, sayur lodeh dan masih banyak menu
lainnya.
Seperti kata orang pada
umumnya, bahwa “Nama itu adalah doa”. Mak Ti juga menerapkan itu pada
nama warungnya. “Warung Makku” memiliki maksud bahwa ini adalah warung masakan
mak atau ibu yang rasanya seperti masakan ibu sendiri. Mak Ti berharap para
pelanggannya juga menganggap masakannya ini sama seperti masakan ibunya karena warungnya
menghasilkan masakan yang enak dengan cita rasa yang khas.
Omset yang didapatkan
oleh Mak Ti selama sehari biasanya sekitar 500 ribu – 1 juta, kalau sedang
ramai bisa lebih dari itu. “Yang namanya usaha kan nggak selamanya berjalan
lancar dan ramai, kalau sepi ya cuman dapet dikit dan rugi karena kan makanan
kalo dihangatin terus juga nggak enak” Curhatnya.
Mak Ti juga menambahkan bahwa
terkadang warungnya juga harus tutup, karena kondisi kesehatannya yang gampang
sakit. “Kalau saya kecapekan pasti gampang sakit, dampaknya warung harus tutup.
Dan saya nggak seneng kalau terus – terusan sakit, jadi sebisa mungkin harus
cepat sembuh.”
Di usia yang sudah tidak
muda, semangat Mak Ti tetap membara seperti saat ia masih muda dulu. Meskipun
keempat anaknya sudah menyarankan beliau untuk berhenti bekerja dan
beristirahat di rumah. Tetapi Mak Ti tidak mau, karena beliau ingin tetap
produktif di masa tua nya ini. “Saya ini kalau diam saja dirumah malah nggak
betah, dan malah gampang sakit. Bawaannya pengen kerja terus” Ujar Mak Ti.
Mak
Ti juga memberi sebuah wejangan untuk para anak muda jaman sekarang.
“Harus terus semangat,
apapun yang kalian lakukan di masa muda pasti ada dampaknya untuk masa tua kalian
nanti. Anak muda jangan mau kalah sama yang sudah tua, semangatnya harus lebih
membara. Dan jangan remehkan pentingnya pendidikan, ya”.
UTS JURNALISTIK
FEATURE LOCAL HEROES
ELFIRA RAMADHAN AQILA PUTRI - 20041184024 - IKOM UNESA 2020A

Komentar
Posting Komentar