Semangat Menolak Menyerah Menjadi Bernilai!
Unesa Journalism, Surabaya – Di masa pandemi seperti ini, semua orang harus berjuang dan berhati-hati dalam melakukan segala aktivitas. Segala sesuatu yang akan dilakukan pun menimbulkan banyak kecemasan karena datangnya wabah penyakit yang dianggap cepat menular dan mematikan.
Banyak yang terkena dampak dari pandemi ini dan masing-masing berusaha bangkit dengan caranya sendiri-sendiri. Jika anak muda saja kesusahan bangkit bagaimana dengan yang sudah tua?
Tidak semua orang yang memiliki keterbatasan memilih untuk menjadi peminta – minta (pengemis). Sebab nyatanya di sekitar kita masih banyak para orang tua yang memilih mencari nafkah di usia senja mereka.
Kisah viral yang dianggap sangat inspiratif ini bisa jadi contoh untuk tetap hidup bersemangat dan penuh syukur. Usia lanjut tak menghalangi mereka untuk tetap produktif dalam memperjuangkan hidupnya.
Kakek yang bernama Dulbrahim ini memilih berjualan roti bakar agar bisa memenuhi kebutuhan hidup. Setiap harinya beliau berjualan di daerah Kenjeran tepatnya di Jalan Setro Baru Utara XI (depan warkop giras), Surabaya, Jawa Timur.
Kakek berusia 88 tahun ini dulu nya adalah seorang tukang batu lalu setelah menginjak masa tua akhirnya memutuskan untuk beralih berjualan roti bakar.
Mbah Dulbrahim setiap harinya berjualan mulai pukul 17.00 – 21.00 WIB untuk menafkahi istri dan keponakannya yang masih kecil sudah ditinggal orang tuanya. Selama ini, mereka tinggal di kontrakan yang berpindah- pindah tetapi masih tetap berada disekitaran tempat berjualannya.
Roti bakar yang Mbah Dulbrahim jual seharga Rp 2000 sudah dapat memilih beberapa aneka rasa, seperti keju, kacang, nanas, strawberry, dan coklat. Ada juga varian campur, pelanggan hanya menambah uang Rp 500,- sehingga harga varian campur hanya Rp 2500,-.
Dari penuturan Mbah Dulbrahim, alasan kenapa dijual dengan harga semurah itu padahal rasanya enak dan toping nya banyak adalah agar anak-anak kecil bisa merasakan roti bakarnya. Walau roti bakarnya dijual murah meriah, nyatanya jualan Mbah Dulbrahim ini masih sepi pembeli bahkan terkadang tak ada yang menghampiri dari selepas maghrib hingga malam larut. Apalagi saat pandemi ini pemasukannya berkurang.
Mbah Dulbrahim bercerita bahwa sebenarnya dia memiliki empat orang anak tetapi satu diantaranya meninggal. Tiga orang anaknya sudah tidak mengurusinya bahkan terakhir kali saat Mbah Dulbrahim menghampiri anaknya ke Magetan malah disuruh pulang.
Atas perlakuan sang anak, Mbah Ibrahim mengaku sudah menerima dengan ikhlas. "Saya nggak diterima sama anak, ya sudah, diterima saja. Yang tahu hanya Tuhan. Nanti kalau saya sudah mati, ya jangan dijenguk, ya jangan dikasihani.” pungkasnya.
2. Batagor Mbah Umi
Sejak 1999 setelah suami mbah umi pensiun dari pabrik roti karena pada saat bekerja mengalami kecelakaan mobil yang meninggalkan bekas luka di salah satu kakinya, sehingga beliau tidak dapat melanjutkan pekerjaan itu. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk berjualan siomay dan batagor asli ikan tenggiri di Jalan Dharmahusada tepatnya didepan apotek k24 deretan kampus kedokteran universitas airlangga.
Batagor dan siomay yang dijual mbah umi ini terbuat dari ikan tenggiri asli, kalau waktu belanja tidak dapat ikan tenggiri maka hari itu juga mbah umi libur jualan. Setiap hari nya buka jam 15.00 – 21.00 WIB khusus hari minggu libur dan per porsi siomay atau batagor nya dijual seharga Rp 15.000,-.
Mbah umi dan suaminya yang sekarang sudah sangat sepuh dengan usia 73 tahun bercerita kalau jualannya sudah tak seramai dulu. Sehari-hari nya beliau memasak dengan jumlah yang sedikit apalagi saat pandemi seperti ini, baginya yang penting dagangannya bisa laku terjual dan ada pemasukan setiap harinya untuk menyambung hidup itu sudah cukup.
Saat ini mbah umi dan suami tinggal bersama anaknya, semua keluarga sebenarnya juga sudah menuturi mbah umi agar berhenti jualan dan dirumah saja, akan tetapi mbah umi merasa tidak enak jika menggantungkan hidup kepada anaknya yang di mana anaknya ini harus menghidupi anak istrinya juga. Jadi mbah umi tetap memilih jalan untuk berjualan bersama suami seperti biasanya.
3. Tahu Tek Telor Pak Yadi
Pak Yadi sudah berjualan tahu tek telor sejak tahun 1975 di Jalan Sepanjang Taman tepatnya di dekat rel kereta api dari arah RS Siti Khadijah ke brimob menuju ispat. Selama berjualan pak yadi tinggal sendiri di kost – kost an daerah bebekan selatan dekat dengan tempat mangkal jualannya.
Selama pandemi penjualan nya sedikit menurun dan setiap dua minggu sekali istri Pak Yadi ini mengunjunginya di kost – kost an sembari mengambil uang bulanan untuk kehidupan sehari – hari anak istri yang dari dulu tinggal di krian, sidoarjo. Pak Yadi mempunyai dua anak perempuan yang saat ini juga sudah bekerja, tuturnya.
Satu porsi tahu tek dijual dengan harga Rp 10.000,- dan untuk tahu tek telor nya sendiri diberi harga Rp 12.000,- per porsi. Petis yang digunakan adalah petis hitam dan porsi tahu tek nya juga banyak. Jika tidak hujan, Pak Yadi mulai berangkat berjualan sehabis maghrib hingga pukul 03.00 WIB. Meskipun hujan Pak Yadi juga tetap berjualan, akan tetapi berangkat nya sehabis isya.
Saat ditanya tentang umur, beliau hanya memberitahukan bahwa sudah berusia 80 keatas tetapi sudah lupa berapa usia pastinya saat ini. Karena faktor usia juga , pendengaran beliau agak terganggu dan meski begitu semangat nya tidak luntur untuk tetap mencari rezeki demi menyambung hidup keluarganya.
Dari ketiga cerita inspiratif diatas dapat disimpulkan bahwa hidup itu pilihan, jika ingin hidup maka perjuangkanlah hidup mu, syukuri berbagai hal yang terjadi, dan jangan sering mengeluh. Berkaca dari kisah diatas agar bisa lebih baik lagi untuk kedepannya. Selagi masi muda manfaatkan segala waktu untuk menciptakan berbagai kreasi yang bisa bermanfaat untuk diri sendiri dan banyak orang. Yang penting coba aja dulu!
UTS JURNALISTIK
FEATURE HUMAN INTEREST
IKE ANGELINA HERDIANI OKTAVIA - 20041184069 - IKOM UNESA 2020A




Komentar
Posting Komentar