Rela Berkorban Waktu dan Tenaga Demi Muridnya

Unesa Journalism - Pandemi COVID 19 ini menyebabkan pemerintah menerapkan PSBB di beberapa daerah. Keadaan ini tidak mengurangi rasa semangat para pejuang ilmu dan mengajar. Kali ini  saya akan sedikit menceritakan beberapa guru yang kreatif dan ispiratif di tengah pandemi saat ini, seperti contoh seorang Guru asal Kecamatan Driyorejo, Kabupaten Gresik yaitu Bapak Robby Nugroho beliau merupakan guru SDN 2 Sumput, Kecamatan Driyorejo, Kabupaten Gresik. Sejak bulan Juli 2020 sejumlah pertimbangan Pemkab Kepulauan Meranti telah menetapkan bahwa proses belajar dan mengajar tetap akan dilakukan dari rumah dengan sistem daring maupun luring.


Beliau rela berkeliling ke rumah muridnya 4 kali dalam seminggu. Alasan pak Robby yaitu tidak semua muridnya memiliki Hand Phone dan sekaligus tidak bisa menggunakannya, tak hanya itu system layanan internet yang belum terjangkau oleh daerah tersebut menjadi salah satu alasan Pak Robby untuk memutuskan semua muridnya berkumpul di salah satu rumah muridnya lalu beliau mendatangi. Beliau melakukan hal itu, karena beliau merasa bahwa setiap muridnya berhak untuk belajar dan guru memiliki kewajiban akan hal itu, di tengah keterbatasan situasi dan kondisi beliau tetap mengajar demi para muridnya.

Beliau juga merasa sedikit lega ketika pemerintah menyediakan layanan edukasi melalui TV, sehingga beliau menyarankan  kepada muridnya untuk mengikuti progam tersebut. Namun, akibat dari itu beberapa murid hampir tidak mendengarkan bahkan sampai ditinggal bermain, akibatnya beliau memutuskan untuk kembali mengajar di rumah muridnya. Sungguh mulia hati beliau, hingga rela menunaikan kewajiban demi memenuhi hak dari muridnya. Beliau melakukan ini padahal sangat menyita banyak wantunya dan juga mengeluarkan banyak biaya dan menambah tambahan pekerjaan, bahkan untuk ongkos pulang pergi dari rumah muridnya beliau juga mengeluarkan sendiri, pertemuan beliau dengan muridnya dilakukan setiap empat kali dalam satu minggu.

Penyebab beliau melakukan ini adalah ketika awal semua murid diliburkan, otomatis materi diberikan secara online, bahkan sampai pengumpulan tugas pun secara online. Pada saat pembelajaran online sering kali terjadi kesalahan dalam pengumpulan tugas sehingga membuat beliau resah karna beliau merasa bahwa materi pembelajaran yang diberikan tidak dapat dipahami muridnya melainkan malah meresahkan. Belum lagi yang tidak memiliki Hand Phone atau yang terkendala sinyal, itu sangat membuat murid dan orang tuanya terbebani. Ada pula orang tua yang bekerja sehingga tidak bisa dampingi anak saat belajar online. Pembelajaran secara online ini membuat beliau merasa tidak lancar.

Dengan jumlah murid 40 murid lalu dibagi menjadi 4 kelompok, sehingga beliau mendatangi rumah muridnya empat kali dalam seminggu, masing – masing didatangi Pak Robby sekali dalam satu minggu dengan jumal sepuluh orang setiap pertemuannya. Alasan Pak Robby tidak menjadikan satu kelas yaitu agar tetap mematuhi aturan, yang tidak diperbolehkan berkerumun, saat melakukan pembelajaran pun beliau juga menyarankan muridnya agar duduknya berjarak dan juga tetap memakai masker.

Langkah ini di ambil oleh keinginan beliau sendiri dan tidak ada tuntutan dari pihak sekolahnya. Sebenarnya beliau agak sedikit takut dan juga menyadari bahwa yang beliau lakukan adalah pelanggaran, karena pandemi yang seharusnya tetap di rumah saja tetapi beliau mendatangi rumah muridnya untuk mengajar. Akan tetapi beliau juga tidak bisa membiarkan muridnya tanpa biimbingan belajar darinya. Memang terbilang berat, tapi beliau tidak pmempersoalkan yang terpenting ini semua demi anak-anak bisa mendapat pelajaran secara efektif.

Dibalik itu tugas guru saat pandemi juga harus memastikan tercapainya tujuan pendidikan dan pemenuhan target akademik dan non akademik, mempersiapkan materi dan hasil evaluasi pembelajaran. Guru juga memiliki tanggung jawab dalam memastikan keselamatan peserta didik secara fisik dan psikis. Memberikan penguatan aktif dan memberikan pemahaman kepada siswa guna mentaati semua protokol kesehatan.

Dengan tetap memprioritaskan fasilitasi terhadap pembelajaran siswa, guru kini harus senantiasa memberikan dukungan emosional bagi siswa, orang tua, dan juga keluarga. Guru harus dapat melakukan komunikasi dan mengembangkan kerja sama yang baik dengan kepala sekolah, orang tua/keluarga siswa untuk membangun kepercayaan dan mendukung proses pendidikan.

Berikut merupakan tuntutan kompetensi guru : 

1. Kemampuan berinovasi, memanfaatkan bermacam digital tools, menyelenggarakan kelas online, penerapan kurikulum yang memperkuat model multidisiplin dan kolaboratif dalam belajar mengajar. 

2. Kemampuan menata ulang akuntabilitas, menentukan metode dalam proses assesment. 

3. Kemampuan menyelenggarakan pendidikan yang membantu siswa berkembang secara akademis, fisik dan psikis, dengan menyeimbangkan antara "old" knowledge dengan mekanisme digital. 

4. Kemampuan menyajikan pendidikan dan pengajaran yang merata termasuk bagi yang paling rentan.

5. Kemampuan komunikasi untuk mensinergikan pandangan dan visi proses pendidikan anak dengan kepala sekolah termasuk orang tua/keluarga. Menuju masa depan dengan membangun sistem dan sekolah yang tangguh pasca pandemi: Mempersiapkan. Melindungi, Memulihkan, Mengevaluasi/refleksi , dan Merencanakan/transformasi.


UTS JURNALISTIK 

FEATURE LOCAL HEROES

INDRI NOVITA SARI - 20041184068 - IKOM UNESA 2020A


Komentar