Masa Pandemi Menjadi Tantangan Baru bagi Guru

Unesa Journalism - Tahun 2020, ini tepatnya pada bulan maret menjadi tantangan baru bagi masyarakat sebab adanya musibah yang dinamakan pandemi covid-19. Pada pertengahann bulan Maret kemaren pemerintah meliburkan sekolah tatap muka dan menjadikan pembelajaran secara daring.

Semua sekolah diliburkan mulai dari tingkat PAUD hingga sampai perguruan tinggi. Hingga saat ini juga murid-murid masih melakukan belajar-mengajar dirumah.

Ketika saya mewawancarai ayah dari teman saya, yaitu bapak Choiruddin. beliau seorang guru. Beliau mengatakan “masa pandemi merupakan salah satu tantangan bagi guru, sebab kesulitan guru untuk memantau langsung keadaan murid tidak maksimal”.



Pembelajaran yang biasa dilakukan di sekolah kini diganti dengan pembelajaran daring. Tak terkecuali di sekolah tempat bapak Choiruddin mengajar. “sekitar tanggal 16 Maret 2020 lalu sekolah tempat saya mengajar resmi meliburkan diri”. Ujar beliau

Beliau menceritakan bagaimana pembelajaran selama pandemi. Beliau mengajar di SMKN Jombang. Awalnya beliau hanya memberitahu kepada murid-murid terkait pembelajaran dirumah dan menjelaskan bagaimana model pembelajaran para murid selama dirumah. “Tanpa babibu saya menjelaskan beberapa teknis yang berkaitan dengan pembelajaran daring. Sesuai intruksi dari sekolah bahwa pembelajaran daring dilakukan dengan media Whatsapp” ujar pak Choiruddin.

Dalam pemberian tugas setiap hari, tugas bisa berupa materi, penilaian atau sedikit tentang virus corona. Beliau menceritakan “Padahal dalam kurun waktu tiga bulan hari efektif belajar, mestinya saya harus menyampaikan dua materi tema dari sembilan tema yang masih tersisa di semester genap. Tentu saja harus selesai sebelum penilaian akhir tahun tiba. Waktu berkata lain, saya mulai menjalankan kegiatan work from home sesuai aturan pemerintah. Saya mulai melaksanakan pembelajaran daring untuk memenuhi tanggungjawab saya sebagai guru. Ini terkesan mudah, namun bisa sangat terasa sulit jika dikerjakan terus-menerus, sebab belum terbiasa” . bagi beliau itulah tantangan baru bagi para guru.

Satu pekan, dua pekan, pembelajaran daring terus belangsung seiring dengan rentenan pemberitahuan belajar di rumah, bahwa pemerintah mengharuskan bahwa pembelajaran daring diperpanjang. 

Dalam situasi seperti ini, guru dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif dalam menyampaikan materi daring. “Tidak hanya sekadar tugas, tugas, dan tugas. Tidak sekadar materi, tugas, ayo kumpulkan. Bukan. Bukan perkara mudah seperti itu” ujar beliau. Sebab jika guru tidak memberikan materi sekreatif mungkin, jelas para murid akan merasakan bosan.

Tidak cukup sampai disitu, para guru juga harus memastikan semua murid paham. Pun harus menjawab dengan tuntas semua pertanyaan dari murid, terlebih bagi mereka yang mengalami kesulitan. “Ini menjadi daftar selanjutnya tantangan baru bagi guru. Sebab, maaf, tidak semua wali murid paham dalam membelajari anak mereka”. Ujar beliau

Apalagi jika ada materi baru dari kurikulum 2013 yang mungkin orang tua mereka belum pernah dapat saat sekolah. Sebagai tambahan, beliau juga harus beberapa kali membuat video pembelajaran ala Youtuber gitu sebagai bahan penguatan jika mereka masih kesulitan mencerna materi.

Dengan pekerjaan seperti itu masih juga ada orang tua wali murid yang protes dan beranggapan bahwa “wahh enakk gurunyaa, tinggal ngasih tugas ngasih tugas tok, terus suruh ngumpulin” padahal guru disini juga merasakan resah dan kesulitan untuk mencari materi dan berusaha membuat dengan sekreatif mungkin agar siswa tidak merasakan terlalu bosan.

“Saya sendiri harus menyiapkan beberapa materi khusus sebelum menyampaikan tugas setiap harinya selama pelajaran akan dimulai” ujar beliau. Bagi beliau penyampaian atau ketika menyiapkan rancangan pembelajaran tatap muka langsung dengan daring sangat berbeda.

Selain pembelajaran melalui media Whatsapp, beliau juga belajar menggunakan media Google Classroom. Dan untuk soal penilaian dan evaluasi para guru juga menggunakan aplikasi yang berbeda lagi, yaitu harus sering menggunakan Google Formulir untuk memberikan evalusi. “bayangkan betapa repotnya jika dalam seminggu saya harus mengajar 6-7 kelas, dan harus membuat penilaian dalam bentuk Google Formulir”. Ujar pak Choirudin

Tetapi pada saat ini beberapa murid-murid sudah bisa melakukan sekolah dengan normal. Tetapi tetap mematuhi memakai masker dan tetap melakukan protokol kesehatan yang diperintahkan oleh pemerintah. 

Gambar Pak Choiruddin yang saat ini telah mengajar

Meskipun tidak semua yang sudah bisa melakukan pembelajaran secara normal kembali. “Hanya saja beberapa kelas yang saat ini bisa melakukan mebelajaran secara normal seperti biasa” 

Tetapi beliau menyadari, bahwa guru yang harus mengajar dan memang sudah menjadi tugasnya untuk menjadikan murid-murid sebagai orang yang berhasil yang akan memimpin negara. “bagi saya sendiri, sebenarnya tidak semua hal dalam pembelajaran daring ini menyusahkan, ada juga yang menjadikan kami tau dan mempelajari hal yang baru. Jadi ada sisi positifnya juga”

“Semoga pandemi covid-19 saat ini bisa cepat berlalu juga. Semua yang kita lakukan pasti ada hikmahnya” ujar beliau di akhir pembicaraan.


UTS JURNALISTIK

FEATURE LOCAL HEROES

MA'RIFATUL ILMI - 20041184070 - IKOM UNESA 2020A

Komentar