COVID-19 Meresahkan Para Medis

 Unesa Journalism - Virus Corona merupakan sebutan untuk berbagai jenis virus dari keluarga coronaviridae. Virus ini menyerang sistem pernapasan. Virus ini umumnya ditemukan pada hewan, namun beberapa jenis dapat menginfeksi dan menyebabkan penyakit pada manusia,  seperti lansia (golongan usia lanjut), orang dewasa, anak-anak, dan bayi, termasuk ibu hamil dan ibu menyusui. Severe acute respiratory syndrome (SARS) dan Middle East respiratory syndrome (MERS),  jadi contoh virus Corona yang sempat mewabah beberapa tahun lalu. Sementara itu, COVID 19 adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Corona jenis baru yang pertama kali ditemukan pada 31 Desember lalu di Wuhan, China.

Pertama kali ditemukan di Wuhan, China pada akhir 2019 lalu. Penyebaran virus yang belum ditemukan penawarnya itu hingga kini tak terkendali. Sudah 200 lebih negara di dunia melaporkan adanya kasus terpapar virus corona.Sekitar bulan Februari 2020 sudah enam bulan berlalu virus Corona mulai muncul di Indonesia. Awal mula penyebab masuknya virus Corona ini dari dua orang yang berusia 64 dan 31 tahun berasal dari Depok yang memiliki hubungan ibu dan anak. Diketahui kedua orang itu terkena saat berdansa dengan temannya (WN) Jepang, dan terkena infeksi virus setelah kontak dengan seorang warga Jepang, diketahui dari salah satu dari mereka adalah guru dansa. Namun tampaknya masih banyak orang yang penasaran dan punya pertanyaan tentang COVID 19.



Salah satu Tenaga Medis di Rumah Sakit (Yuni) menjelaskan hingga saat ini sumber pasti COVID 19 belum diketahui. Tim peneliti masih melakukan investigasi, namun dicurigai kemungkinan besar virus ini berasal dari hewan. Tim peneliti masih terus memantau riset terbaru terkaiit hal ini dan topik COVID-19 lainnya. Akan diperbarui begitu temuan baru dilaporkan. Para ilmuwan di dunia hingga saat ini memang masih berlomba-lomba menguak misteri dari COVID 19. Perlahan tapi pasti berbagai pertanyaan tentang COVID 19 terungkap dan hal ini terus diinfokan lewat situs-situs resmi lembaga kesehatan seperti milik Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Mulai dari bagaimana virus ini pertama kali ditemukan, gejalanya, hingga progres vaksin dan obat.

Yuni juga menjelaskan bahwa sebagian besar virus COVID 19 bisa menginfeksi lewat droplet atau cipratan liur yang bisa keluar dari mulut orang atau hewan sakit. Seseorang bisa terinfeksi virus COVID 19 bila terpapar secara langsung, misalnya menghirup droplet halus, atau bila memegang permukaan yang tercemar lalu tak disadari menyentuh wajah. Virus COVID 19 tidak dapat bertahan lama di luar tubuh. Namun demikian, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, seseorang tetap bisa terinfeksi bila menyentuh permukaan yang terkontaminasi, studi menunjukkan COVID 19 dapat bertahan paling lama sampai 72 jam di permukaan tertentu. Oleh karena itu, disarankan agar membersihkan permukaan yang sering disentuh dengan disinfektan.

Gejala yang ditimbulkan COVID 19 bisa beragam untuk tiap orang. Ada yang sama sekali tidak memiliki gejala, namun ada juga yang hanya dalam hitungan jam dapat mengalami kesulitan bernapas yang berujung fatal. Salah satu perawat juga menyebut beberapa gejala ini bisa dialami oleh pasien yang terinfeksi COVID 19 seperti : Demam, Sesak napas, Nyeri dada, Batuk, Mata merah, Gangguan kognitif, Kelelahan, Diare, Pilek, Nyeri otot, Kehilangan fungsi indra perasa dan penciuman, Sakit kepala.

WHO telah meluncurkan program Solidarity Trial untuk mempercepat riset obat yang efektif membantu kesembuhan pasien COVID 19. Nama obat seperti remdesivir, dexamethasone, avigan, dan klorokuin beberapa kali disebut dapat bermanfaat meski dengan risiko efek sampingnya masing-masing.Sementara untuk vaksin, sudah ada lebih dari 100 kandidat vaksin COVID 19 yang sedang diteliti. Kandidat dari perusahaan bioteknologi Moderna

sempat disebut mulai masuk dalam tahap uji klinis akhi. Berharap akhir tahun 2020 vaksin COVID 19 sudah bisa mulai diproduksi.

Akhir – akhir ini masyarakat sering mengutarakan terakhir adalah tentang cara mencegah penularannya. Karena obat dan vaksin yang efektif belum benar-benar ditentukan, mencegah jadi cara yang dinilai paling baik dalam menghadapi wabah COVID 19.  WHO merekomendasikan agar orang-orang saling menjaga jarak minimal 1,5-2 meter. Selain itu disarankan juga agar memakai masker, rajin mencuci tangan, hindari menyentuh wajah, dan sering-sering disinfeksi permukaan yang sering disentuh.

Setiap warga berperan untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona atau COVID-19. Caranya seperti instruksi pemerintah, yakni: melakukan social distancing dan tidak keluar rumah. Bagi para pekerja diimbau untuk kerja dari rumah atau work from home.Sayangnya menurut Yuni masih banyak warga yang berkerumun di luar rumah. Inilah yang menyebabkan lonjakan kasus virus corona di Indonesia.Selain itu, lanjut Yuni, penularan virus corona paling banyak terjadi melalui tangan. Dia mengimbau masyarakat untuk selalu menjaga kebersihan dengan selalu mencuci tangan dengan sabun pada air mengalir sebelum melakukan kegiatan apapun. Pemerintah juga sudah melakukan pencegahan seperti mengimbau untuk pelaksanaan sholat dilakukan di rumah saja.


UTS JURNALISTIK
FEATURE HUMAN INTEREST
INDRI NOVITA SARI - 20041184068 - IKOM UNESA 2020A

Komentar