Beradaptasi dengan Sistem Pembelajaran Daring dan Segala Kekurangannya

 Unesa Journalism - Bulan Februari tahun 2020 merupakan awal mula pandemi virus Covid-19 melanda Indonesia. Penyebaran virus Covid-19 selalu mengalami peningkatan setiap harinya. Hal tersebut tentu memberikan dampak yang cukup besar pada seluruh kegiatan dari berbagai sektor, salah satunya yaitu di sektor pendidikan.

Meskipun sedang dilanda pandemi, sistem pendidikan di Indonesia harus tetap berjalan. Untuk itu pemerintah membuat kebijakan baru yaitu merubah pembelajaran luring menjadi pembelajaran secara daring atau online. Hal ini bertujuan agar kegiatan pembelajaran tetap berjalan tanpa harus bertatap muka dan dapat mengantisipasi penyebaran virus Covid-19 di sekolahan ataupun kampus.

Pendidikan dari tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi sudah mulai menerapkan pembelajaran daring sejak bulan Maret 2020. Meskipun dinilai efektif untuk menekan penyebaran virus Covid-19, ternyata banyak yang mengeluh karena sistem pembelajaran daring ini. Seperti yang dialami oleh Onika Ovan Fanani, mahasiswa dari Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya jurusan Teknik Desain Manufaktur. Lelaki berumur 18 tahun yang biasa dipanggil Ovan adalah mahasiswa baru Angkatan 2020 atau yang biasa disebut dengan “Angkatan Corona”.


Sejak awal memasuki dunia perkuliahan, Angkatan 2020 mau tidak mau dan suka tidak suka diharuskan untuk mulai beradaptasi dengan keadaan yang jauh berbeda dari tahun – tahun sebelumnya. Jika pada tahun sebelumnya kegiatan penerimaan mahasiswa baru diadakan secara asyik dan meriah karena dapat bertemu dengan orang – orang baru secara langsung. Tetapi kegiatan penerimaan mahasiswa baru tahun 2020 harus diadakan secara daring. Meskipun tetap dilaksanakan walaupun secara daring, tetapi suasana nya tentu berbeda dengan yang dilakukan secara luring.



Tidak hanyak itu, kegiatan perkuliahan akhirnya juga dilakukan secara daring. Ovan sudah menjalani pembelajaran atau perkuliahan secara daring ini selama kurang lebih 3 bulan. Menurutnya kegiatan perkuliahan itu kurang efektif. Karena ia berkuliah di politeknik yang notabendenya lebih banyak kegiatan praktikum dibandingkan teori. Tetapi jika dilaksanakan secara daring maka yang seharusnya praktik malah hanya dijelaskan materi saja, dan tentunya tidak akan maksimal.

Hal yang sama juga dialami oleh Alsa Nabilah Rachma, seorang siswi kelas 12 SMK Negeri 3 Buduran Sidoarjo. Alsa merupakan siswi jurusan Desain Rancang Gambar Kapal. Seharusnya sistem pembelajarannya 60% praktik dan 40% sisanya yaitu teori.  Menurut alsa, hal ini sangat berpengaruh terhadap keterampilannya. Belum lagi kestabilan internet yang terkadang sering mengganggu jalannya penyampaian materi kepada siswa.

“Kadang pembelajaran secara langsung yang dilakukan di sekolah aja masih banyak yang belum paham, apalagi kalau hanya via online” Papar Alsa. Hal ini merupakan PR besar bagi guru pengajar yang harus menyiapkan materi dengan kreatif aga dapat dipahami para siswanya.

Ovan dan Alsa memiliki harapan yang sama agar kegiatan pembelajaran daring lebih efektif lagi dan tentunya tetap diimbangi dengan adanya kegiatan praktikum. “Kalo bisa pembelajaran daring juga diselingi dengan kegiatan praktikum secara offline. Namun mungkin mahasiswa yang hadir  harus dibatasi serta tetap mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditetapkan” Papar Ovan.Ia juga menambahkan jika nantinya ada pembelajaran secara offline, maka ada kesempatan untuk berinteraksi secara langsung dengan teman – teman barunya, tidak hanya melalui dunia maya saja.

Bak setuju dengan yang dipaparkan oleh Ovan, Alsa juga mengatakan bahwa seharusnya untuk pembelajaran yang ada kegiatan praktikumnya lebih baik dilaksanakan secara langsung. “Seharusnya praktik harus tetap ada. Toh ini juga agar keterampilan siswa dapat maksimal, kalo teori saja tentunya gak bisa dong ya” Ujar Alsa.

Alsa juga menambahkan jika ada selingan pembelanjaran luring, ia akan lebih mudah untuk menambah informasi yang dapat ia peroleh dari teman – temannya. “Kalo ada yang nggak paham saat dijelaskan melalui online, kan bisa nanya teman. Memang di internet itu ada semua, tetapi menurut saya terkadang yang dijelaskan oleh teman akan lebih mudah untuk dipahami gitu hehehe” Tambahnya.

Kegiatan pembelajaran daring ini memang membuat para pelajar maupun mahasiswa minim melakukan interaksi sosial dengan teman – temannya. Akhirnya nanti jika bertemu pasti merasa canggung, dan parahnya lagi bisa mengakibatkan seseorang menjadi anti sosial. Akhirnya guru pun juga mengalami kesulitan untuk melakukan pengawasan belajar kepada para siswanya. Hal tersebut berguna untuk mengindentifikasi jika ada siswa yang tertinggal pembelajaran, maka guru harus segera bentindak agar cepat menemukan jalan keluarnya.

Keluh kesah yang disampaikan oleh pelajar dan mahasiswa memang banyak, ada yang pro dengan pembelajaran daring karena dinilai lebih fleksibel, tetapi ada juga yang kontra karena beberapa alasan seperti yang sudah disebutkan diatas. Namun ini semua tergantung dengan kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Pelajar dan mahasiswa hendaknya mengikuti apa yang sudah ditetapkan. Harus mulai beradaptasi dan terbiasa dengan kebijakan pembelajaran daring ini, sama seperti kutipan kata “Tak kenal maka tak sayang”.

Sebenarnya pembelajaran secara daring ini dapat berjalan efektif dan efisien jika pemerintah melakukan evaluasi rutin dengan mempertimbangkan saran – saran dari pihak pengajar seperti guru dan dosen, serta para pelajar maupun mahasiswa di Indonesia.


UTS JURNALISTIK

FEATURE HUMAN INTEREST

ELFIRA RAMADHAN A.P  - 20041184024 - IKOM UNESA 2020A

Komentar